FILOSOFI PAKU UNTUK SANG PEMARAH
Suatu ketika, aku punya seorang sahabat yang bersifat pemarah datang padaku. Untuk mengurangi kebiasaan marahnya, aku memberikan sekantong paku dan mengatakan padanya untuk selalu menancapkan paku-paku tersebut di tembok belakang rumahnya setiap kali dia marah.
Hari pertama sahabat saya telah menancapkan 48 buah paku ke dinding tembok rumah belakangnya, karena 48 kali dia marah saat itu. Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia mulai menyadari, bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada menancapkan paku di dinding temboknya.
Akhirnya tibalah hari, dimana sahabatku merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ku, yang kemudian saya mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari–hari berlalu dan sahabatku itu akhirnya memberitahu aku, bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu saya ajaklah dia melihat ke dinding-dinding tembok tersebut. “ Hmm….., kamu telah berhasil dengan baik sahabatku, tapi, lihatlah lubang-lubang di dinding tembok ini. Dinding tembok ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata–katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada sesorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf luka itu akan tetap ada, dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik, atau bahkan
*****************
BELAJAR MENILAI DIRI
Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kakek tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:
“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000,- !!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”
Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.
“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”
Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan.
***
Sahabat, cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000,-
Sahabat, seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.
Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah.
Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.
Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.
*****************
ARTI SEBUAH MAHABBAH
Seorang Mursyid bercerita kepada sang Murid tentang sebuah kisah Mahabbah dan Kepatuhan seorang Hamba dihadapan Allah yang melebihi apapun. Sang Mursyid mengutip dari sebuah Hadist Qudsi yang dinukil oleh Imam Sayyidina 'Ali Murtadha bin Abi Thalib. Kisah yang sederhana dan nyaris dilupakan banyak orang tapi masih menjadi rujukan bagi para Murid yang menempuh jalan Tauhid / Tassawuf / Tareqat.
Di sebuah keadaan malam itu, ketika semua Hamba bermunajad kepada Allah dengan segala bentuk aneka keinginan namun nun jauh dipojok, duduk seorang Hamba dengan airmata bercucuran. Dari mulutnya hanya keluar dua kata Istighfar dan Shalawat. Tak ada yang lain apalagi mengucapkan sebuah permintaan. Allah yang Mahatahu dengan Mahabijaksana dan Demokratis bertanya kepada Jibril tentang seseorang yang sejak tadi hanya melepas kata Istighfar dan Shalawat tanpa ada satupun permintaan.
ALLAH: “Wahai Jibril, siapakah seseorang yang duduk dipojok sana dengan bercucuran airmata? Sejak tadi Aku tidak mendengar satu permohonan dan keluhan yang keluar lewat bibirnya kecuali Istighfar dan Shalawat. Cobalah Kau datangi seseorang itu, tanyakan apa yang menjadi Hajadnya (Keinginan).”
JIBRIL: “Ya Allah kenapa Engkau sampai tertarik dengan seseorang itu, masih banyak hamba Engkau yang lain dan melebihi seseorang tersebut. Ya Allah, sedang menyembunyikan apakah seseorang itu hingga Engkau memalingkan wajahMu kearahnya. Tolong ajari Kami agar dapat memahami ini semua.”
ALLAH: “Pergilah kesana nanti Kau akan tahu.”
Maka Jibril pun mendekati seseorang yang masih duduk dipojok dengan airmata bercucuran.
JIBRIL: “Wahai hamba Allah yang mulia. Aku diperintah oleh Allah untuk menanyakan kepadamu, apa yang sesungguhnya menjadi hajadmu, sebab sejak tadi engkau hanya diam tanpa minta sesuatupun kepada Allah. Kau cuma menangis sambil mengucap Istighfar dan Shalawat.”
Dengan tersenyum seseorang itupun menjawab pertanyaan Jibril.
SESEORANG: “Bagaimana aku bisa sampaikan hajadku kepada Allah, sedangkan Allah sudah mengetahui apa yang sembunyi didalam hatiku.”
JIBRIL: “Sampaikanlah sekecil apapun hajadmu nanti Allah akan kabulkan.”
SESEORANG: “Aku malu kepada Allah dan Nuranbiya Muhammad jika harus mengutarakan sesuatu, padahal aku belum Qatam (selesai) memahami maksud Allah. Aku sedang belajar bersyukur dan sabar karena Allah menggerakkan orang lain untuk berbuat Dzalim kepadaku hingga aku teraniaya.”
JIBRIL: “Kau sampaikanlah kepada Allah agar menghentikan orang yang berlaku Dzalim kepadamu itu.”
SESEORANG: “Pernahkah Muhammad meminta kepada Allah agar menghukum orang-orang yang berlaku Dzalim kepada Beliau?”
JIBRIL: “Tidak.”
SESEORANG: “Jika tidak, bagaimana aku sanggup melakukan sesuatu yang Muhammad saja tak pernah lakukan. Wahai lelaki yang aku tak tahu Engkau siapa, ketahuilah, aku ini cuma pengikut Muhammad, jadi aku tak ingin melampaui yang kuikuti.”
JIBRIL: “Baiklah, apa yang aku dengar tadi akan kusampaikan kepada Allah.”
Jibril berlalu dan seseorang itu meneruskan Istighfar dan Shalawatnya.
JIBRIL: “Ya Allah, aku sudah dekati seseorang yang duduk di pojok sana. Sungguh benar Ya Allah, dia Umat Kekasihmu Nuranbiya Muhammad. Tolong ajari Kami cara memahami maksud Engkau.”
ALLAH: “Mahabbah (Cinta) dan Kepatuhan, itulah kuncinya. Aku sudah menguji kesungguhannya dalam Kepatuhan kepada-Ku dan Mahabbahnya kepada Kekasihku Muhammad. Sudah lama Aku menunggu satu keluhan keluar lewat bibirnya atau terbersit dalam hatinya namun hal itu tak pernah ada hingga sekarangpun dia datang kehadapanku tanpa satu keinginanpun. Wahai Jibril, ketahuilah, inilah manusia yang kalian protes sewaktu Aku ingin menciptakannya. Sekarang Aku bertanya kepadamu, adakah yang keliru dari Penciptaanku?”
JIBRIL: “Mahasuci Engkau ya Allah, tak ada yang keliru dan sia-sia segala ciptaanmu.”
ALLAH: “Wahai Hambaku, beginilah caraku mengangkat Derajat Hamba disisiku. Pujilah Aku semestinya dan jangan mengeluh.”
“Mahabbahlah kepada Kekasihku Muhammad dengan sepenuh Hati.Wahai Izrail, Aku haramkan bagimu untuk menjemput dan mematikan seseorang yang duduk dipojok sana sebelum Aku penuhi segala Hajadnya di dunia.”
“Wahai Jibril, Mikail, Israfil, lindungilah seseorang yang duduk di pojok sana dengan namaku. Aku tak izinkan siapapun mengganggunya. Maka datanglah kehadapanKu dengan airmata bercucuran serta menyimpan semua keinginan. Janganlah sekali-kali kalian mengajariKu seolah Aku tak tahu apa yang jadi Hajad kalian. Belajarlah kalian semua dari seseorang yang duduk dipojok sana.”
___________________________________
Catatan: Kisah ini hanyalah cermin bagi siapapun, khususnya untuk saudara ana Susno Duadjidan keluarganya. Juga merupakan kepatuhan kepada almarhum Abah Habib Syech Maulana Abdullah Ja'far Almadany. Kisah yang Abah sampaikan sudah ana bagikan kepada orang-orang baik itu langsung ataupun tidak sesuai perintah. Mohon sampaikan kepada Buyut Kita Nuranbiya Muhammad Rasulullah agar Ridha kepada Saudara anaSusno Duadji, agar Allah Ijabah apa yang menjadi Hajadnya seperti kisah tersebut. Wahai Abah, Munajadlah untuk saudara ana Susno Duadji agar mereka tahu bahwa Abah pernah ada dan selalu ada disamping Waladmu ini. Insya Allah Kher, Amin ya Qudratullah Jabbarul Ghaib. Salam Ta'ziem….
*****************
HIDUP BUKAN AMBISI
Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.
Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."
Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.
Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.
Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Cuma yaitu--kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu...
- Jalanilah hidup yang seimbang
- Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama
- Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini
*****************
MENGENANG MBAH IMAM SUBHANI GURU SUFIKU
Almarhum KH. Imam Shubhani adalah guruku yang sufi. Kalau saja Beliau
mau menerima royalti dari buku yang ditulisnya “Durusul Lughah” yang
diterbitkan Percetakan Trimurti dan dipakai oleh berjuta santri di pesantren dan
madrasah di negeri ini, pastilah Beliau menjadi salah satu pemecah rekor muri,
penulis buku terbanyak sepanjang masa.
Beliau lebih suka memilih hidup sederhana. Walau sudah lanjut usia,
beliau tergolong seorang kakek yang ulet dan mandiri. Tak heran bila
disekeliling rumahnya selalu dipadati berbagai pohon pisang, ketela pohon,
aneka jenis tanaman sayuran mulai dari cabai, bayam, kacang panjang dan
sebagainya. Setiap hari apa yang Beliau makan adalah hasil dari tangannya
sendiri; nasi, sambal bawang, lalapan dan sesekali berlauk telur dari ayam yang
beliau pelihara.
Suatu ketika buah pepaya yang beliau tanam mulai tanpak menguning
pertanda akan segera bisa dipanen. Ada
tiga buah pepaya yang matang dan rencana pepaya tersebut akan di bawa saat menjenguk
cucu beliau yang berada di desa seberang.
Keesukan hari, ternyata salah satu pepaya di pohon itu hilang.
Entah siapa yang mengambil ? Beliau agak kecewa, karena buah kesukaan sang cucu
tiba-tiba hilang, dan untuk mendapatkan kembali pepaya yang matang mesti
menunggu beberapa hari bahkan beberapa minggu lagi. Apalah arti semua
penyesalan, karena pepaya juga tak akan pernah kunjung kembali.
Esok harinya, KH. Imam Subhani justru
melakukan sesuatu yang aneh. Beliau meminjam tangga bambu dari keponakan yang tinggal bersebelahan
dan menaruhnya di batang pohon pepaya yang baru dicuri orang. Semula sang
keponakan mengira tangga bambu tersebut dipergunakan untuk memperbaiki rumah,
tetapi herannya ternyata justru hanya di sandarkan pada pohon pepaya.
Karena penasaran melihat sesuatu yang tidak lazim, sambil
basa-basi sang Keponakan bertanya, "Mbah, saya kira mau memperbaiki rumah,
apa ada genting yang bocor to mbah ?
Beliau tersenyum sambil menjawab, "He he he, enggak kok Nduk,
lagian kan
nggak musim hujan ....." Jawaban tersebut semakin membuat penasaran, "Terus……,
tangga bambu mau dipakai untuk apa Mbah ?"
Sambil menunjuk ke arah pohon pisang, mbah Bani bilang, "Lha
itu tangga bambumu di sana ."
Sang keponakan bertanya lagi "Apa pohon pepayanya mau roboh
Mbah ?"
Dengan enteng beliau menjawab, "Tidak, pohonya masih kuat,
insya Allah aman nggak merobohi rumah kamu he he he ..."
Karena tampak KH. Imam Subhani sedang asyik berbincang sambil ketawa-ketiwi
khas kakek-kakek yang terkekeh-kekeh, tetangga lain yang menyaksikan hal
tersebut tertarik untuk ikut bergabung. Secara serentak dengan penuh keheranan
mereka bertanya, "Lantas untuk apa tangga bambunya disandarkan di pohon
pepaya itu Mbah ?"
Mbah Imam Subhani dengan santai dan tak ada beban menjawab,
"Biar siapapun yang ingin ambil pepaya itu tidak merasa kesulitan dan
dengan mudah memetiknya kekekekek....., dengan begitu, saya bisa bersedekah kekekekek
.....?"
Mendengar jawaban mbah Bani seperti itu, spontan para tetangga
terangguk-angguk dan tiba tiba ada salah satu dari mereka yang merasa bersalah
dan minta maaf, "Mbah, kemarin saya yang ambil satu, tapi maaf tidak
sempat bilang terlebih dahulu sama Mbah, maaf ya mbah ... !
Spontan KH. Imam Subhani menjawab, "Nggak pa pa, kalau masih
kurang ambil lagi aja sisanya yang masih ada, lha wong itu pohon Nya Allah kekekekek…….,
biar kalau sudah habis saya bisa segera mengembalikan tangga bambu yang saya
pinjam kekekekekek...."
Bagi mbah Bani sendiri, daripada sakit hati kehilangan pepaya yang
hanya menambah kegelisahan dan beban hidupnya, mending mengikhlaskan buah
pepaya yang hilang tersebut sekaligus memberikan yang tersisa. Itulah sosok
alumni Gontor yang mukhlish dan sufi.



