WAKTU CAMPAKKAN CINTA
Diksi itu bertuah pada cinta, “Aku tak pernah memintanya mencintai diriku, tapi yang kupinta hanya, agar dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.”
Aaaahh…… masalah benci jadi cinta, cinta jadi duka sudah biasa aku tonton di film-film kolosal hingga film box office. Aku juga terlalu sering memerankan fragmentasi kehidupan yang berkisah tentang duka dan cinta, yang pada akhir istimbatku ;
“Love is always patient and kind, it is never jealous. Love is never boastful or conceited. It is never rude or selfish. It does not take offense and is not resentful”
Tapi waktu …. Mahluk yang susah kubayangkan bentuknya dan paling kutakuti bila tiba saatnya ia menghakimiku. Saat dimana kelembutan, keteduhan dari rasa yang ada akan segera sirna. Tiada lagi serpihan kenangan mampu dia ingat, kelak kemudian hari tersisa di pucuk-pucuk ilalang, di setiap pagi sebelum cahaya itu dia temui. Karena aku hanyalah bintang yang tak akan mampu menyamai bulan, apa lagi terang nya matahari. Aku, hanyalah cahaya suram di sudut hati yang senyap, bahkan mungkin dia tak pernah tau di mana itu.
Maka, aku ingin bicara pada nya, sebelum burung burung itu berkicau hingga senandung merdunya akan menghamburkan keparauanku. Aku ingin bercerita kepadanya, sebelum waktu lantang bernyanyi tentang sebuah hari, ”Waktumu akan segera berlalu”. Aku hanya ingin dia tahu, sebelum terik yang jalang membakar keteduhan hati yang ada, kemudian menguburnya dengan butiran debu.
Wahai sepi, aku selalu ingin bersamanya walau jarak akan segera tiba, seiring kaki melangkah menatap jauh kedepan dan waktu mulai beranjak meninggalkanku. Kuingin dirinya selalu tersenyum, walau kakiku setapak melangkah dan musti bergegas pergi untuk tak lagi bisa menikmati hari-hari bersamanya.
Semoga dia tahu, aku ini hanya seberkas cahaya lilin, yang berada di tengah ribuan cahaya yang begitu terang. Tapi aku berharap seberkas cahaya ini bisa menjadi penerang saat ribuan cahaya tersebut telah padam. Yang ngin selalu melihatnya tanpak tersenyum dan bahagia. Hadirku ingin menjadi sayap baginya hingga ku bisa membawanya terbang meraih mimpi-mimpi.
Namun sayap-sayap itu patah oleh guliran masa, dan dia akan pergi begitu saja. Yang ku takutkan bukan kepergian itu, tapi deraian air mata yang terjatuh membasahi bumi, karena dirinya begitu berarti bagi ku.
Dengarkan aku sebelum aku tak mampu lagi bernawala, aku hanyalah secarik sepi di setiap malam tanpa suara, membalut jiwa yang resah dengan puing puing cerita tak bertuah, dan romanku tak kan pernah kau dapatkan lagi dengan segala kesengajaan.
MUNGKINKAH AKU AKAN KEHILANGAN
Bila kita siap MENDAPATKAN, sudahkah kita juga siap KEHILANGAN?
Kehilangan adalah suatu peristiwa yang paling ditakutkan manusia. Karena kehilangan, seseorang rela membangun benteng sekeliling istananya, membeli anjing yang paling menakutkan untuk menjaga rumahnya, membayar jasa keamanan dan mengeluarkan materi yang tidak sedikit agar tak pernah kehilangan.
Akan tetapi, kehilangan terkadang menjadi sebuah keharusan dan mutlak terjadi adanya. Seperti kita mesti rela kehilangan masa kanak-kanak dan masa remaja ketika kita menginginkan kedewasaan. Kita mesti rela kehilangan kebodohan saat kita merindukan menjadi seorang yang pintar, kita mesti rela kehilangan kesedihan, rasa galau dan duka saat kita mendambakan kebahagiaan atau keceriaan dan sebagainya dan sebagainya.
Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa mendapatkan hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Pengalaman mendapatkan mesti diantisipasi dengan kesabaran dan ketabahan akan hilangnya sesuatu yang telah di dapatkan, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ?
"Kemenangan Hidup bukan berhasil mendapat sesuatu, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang telah didapat tanpa menguasai dalam sebuah keabadian. ”HIDUPLAH SEPERTI ANAK-ANAK YANG DAPAT MENIKMATI TANPA HARUS MENGUASAI"
MENGAPA MESTI ADA JARAK
Ya, benar, Jarak itu ada. Dengan tidak bercerita, dengan tidak menatap, dengan tidak curiga, dengan tidak marah-marah, dengan tidak bertanya "mengapa?", dengan tidak meminta, dengan tidak menyapa, dengan tidak seolah-olah, dengan tidak kentara dan dengan tidak-tidak ,,,,,,
Aku sudah lelah dengan semua tuntutanmu akan kemauanku, bagaimana seharusnya sebuah keharusan. Aku akhirnya memilih untuk menghadirkan jarak di setiap pilihan-pilihanku. Jarak itu adalah aku. Spasi. Jarak itu juga kamu. Jeda. Dan, ada waktu di antaranya. Di antara Jarak. Di antara Spasi dan Jeda.
Aku ini sensitif. Terlalu, bahkan. Dari ucapan dan sikap orang lain saja, bisa dengan cepat aku menyimpulkan apa maksud itu semua dari perspektifku tanpa perlu tahu maksud yang sebenarnya dari orang lain tersebut. Ah, aku suka sekali membangun dunia perspektifku sendiri.
Dan, ya, aku kini sudah membangun Jarak. Tenang saja, tidak akan ada yang namanya pertanyaan-pertanyaan tidak penting, tidak akan ada yang namanya keluh berkepanjangan, tidak akan ada yang namanya pemaksaan rasa dan tindakan, tidak ada yang namanya "aku harus tahu tentang kamu, apa pun itu !", tidak akan ada yang namanya duka, tidak akan ada yang namanya murka dan, tidak akan ada yang namanya tidak ada
Aku tidak ingin mengganggu pikiran dan perasaanku karena terus-terusan mengganggumu. Kita ini Jarak.
----------------------------------
Seandainya Jarak itu terus menjauh, mungkin saat itu memang seperti itulah pilihan kita.
Aku ini sensitif. Terlalu, bahkan. Dari ucapan dan sikap orang lain saja, bisa dengan cepat aku menyimpulkan apa maksud itu semua dari perspektifku tanpa perlu tahu maksud yang sebenarnya dari orang lain tersebut. Ah, aku suka sekali membangun dunia perspektifku sendiri.
Dan, ya, aku kini sudah membangun Jarak. Tenang saja, tidak akan ada yang namanya pertanyaan-pertanyaan tidak penting, tidak akan ada yang namanya keluh berkepanjangan, tidak akan ada yang namanya pemaksaan rasa dan tindakan, tidak ada yang namanya "aku harus tahu tentang kamu, apa pun itu !", tidak akan ada yang namanya duka, tidak akan ada yang namanya murka dan, tidak akan ada yang namanya tidak ada
Aku tidak ingin mengganggu pikiran dan perasaanku karena terus-terusan mengganggumu. Kita ini Jarak.
----------------------------------Seandainya Jarak itu terus menjauh, mungkin saat itu memang seperti itulah pilihan kita.
CINTA DISTORSI
Sehari setelah mengupas RESONANSI, rasanya ingin juga bicara soal DISTORSI, masih dalam kerangka seputar rasa dan cinta.
Sebulan yang lalu, seorang teman mengadukan persoalan cintanya kepada saya. Lelaki paruh usia yang sedang memadu kasih, terpaksa harus mengakhiri semua impiannya hanya karena sang kekasih merasa tidak layak menjadi seorang pendampingnya. Ibarat pepatah ‘karena nila setitik, rusak susu sebelangga’. Cinta seperti ini merupakan gambaran dari distorsi kognitif jenis Abstraksi selektif.
Kita bisa bayangkan, kalau hubungan yang awalnya baik menjadi rusak karena satu alasan layak atau tidak dan mempertahankan hal negatif tersebut sehingga tidak lagi memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal positif yang sebenarnya ada dalamnya.
Namun, saya juga berpikir bahwa individu tidak sepenuhnya salah dalam proses pembentukan distorsi kognitif, selain karena masa lalu dan kondisi, orang lain juga memberi peran penting, seakan reinforcement bahwa cara berpikir yang benar adalah apa yang dia sarankan.
Sampai disini cinta tidak dimaknai lagi sebagai sesuatu yang membawa kebahagiaan dalam suatu hubungan tapi mengalami degradasi makna, menjadi penyebab kerusakan hubungan. Jadi, kita yang memperlakukan orang lain ataupun diri sendiri dengan cara berpikir yang terdistorsi akan jauh dari cinta.
Layaknya Wongge yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, kita pun akan menjadi tidak bahagia jika kita mencintai orang lain dengan distorsi kognitif.
Bukankah anda menemukan kebenaran dari sebuah cerita? Sama seperti petuah bijak dari seorang filsuf :
“Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.
HEGEMONI CINTA
Resonansi itu proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar. Suatu benda bergetar pada frekuensi yang sama dengan frekuensi benda yang terpengaruh resonansi tidak akan terjadi apabila gelombang yang dihasilkan memiliki frekuensi yang beda.
Bila dua hati memiliki gelombang dengan frekuensi yang sama, dan dua gelombang yang sama dan sefasa, maka kedua gelombang akan konstruktif, sigma nya adalah total kedua gelombang, artinya dua gelombang tadi akan bersatu membentuk satu gelombang baru yang “lambda” nya dua kali lipat gelombang awal, karena itu mengapa kita merasakan lebih senang, merasa punya energi lebih saat bertemu dan keajaiban cinta membuat gelombang itu tidak hanya berkekuatan dua kali lipat, tapi berkali kali lipat.
Getaran ini berpusat pada perasaan halus dalam diri manusia, yang terwujud karena adanya hubungan yang begitu mendalam dan istimewa antara seseorang dengan seseorang, sehingga membentuk keterkaitan batin yang begitu kuat, begitu peka sampai bisa mendeteksi kejadian yang tidak biasa terjadi. Getaran ini cenderung dilandasi oleh ketulusan cinta yang mendalam, sampai tataran ’soulmate’ (belahan jiwa).
Dan saat getaran cinta itu saling menemukan frekuensi yang sama maka akan terbentuklah satu getaran cinta yang indah. jika merujuk ke rumus ;
2N - 1
ln = -------------- λ
4
l = panjang kolom udara di atas permukaan air dalam tabung (m)
n = resonansi ke-n (n = 1, 2, 3, …)
λ = panjang gelombang (m) ; λ = V (cepat rambat suara di udara) x F(frekuensi)
----------------------
Dahsyat nya cinta adalah panjang kolom udara yang dimiliki oleh kedua hati yang sedang dalam logika cinta adalah 0, atau dengan kata lain, tidak ada jarak diantara hati ini. sehingga ketika di masukkan ke rumus, maka panjang gelombang cinta ( λ ) baru adalah tak terbatas ( ∞ ).
Cinta itu tentang logika, karena persoalan cinta bukan soal “abal-abal”, logika cinta terlalu rumit, jadi biarkan cinta cukup dirasa dan dibagi.
JATUHKAN SAJA BATU KECIL ITU KEPADA KAMI
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun sia-sia.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu kecil itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas ? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Tuhan terkadang menggunakan cobaan-cobaan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali DIA melimpahkan rahmatNYA kepada kita, tetapi justru membuat kita buta, tuli dan bisu. Karena itu, agar kita selalu teringat kepadaNya, sering-sering lah KAU jatuhkan “batu-batu kecil itu” kepada kami.
JADILAH OBOR KEBIJAKSANAAN ITU
Seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lampu obor. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa lampu obor ? Kan sama saja buat saya, saya tetap tak bisa melihat ! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihatmu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa lampu obor tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata ! Beri jalan buat orang buta dong !” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta ? Tidak bisa lihat ya ? Aku bawa lampu obor ini supaya kamu bisa lihat !” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta ! Apa kamu tidak lihat, lampu obormu sudah padam !” Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali lampu obor yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tadi. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah lampu obor saya padam ?” Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak, secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta ?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali lampu obor mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang buta yang sedang mencari-cari lampu obor masing-masing. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa lampu obor juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Lampu obor adalah lentera melambangkan sinar kebijaksanaan. Membawa lampu obor berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Lampu obor, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan)!.
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa sepantasnya lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya : kurang sadar dan kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan lampu obor kalau kita tidak bisa melihat lampu obornya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki lampu obor kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut lampu obor dalam diri kita masing-masing ? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam ? JADILAH LAMPU OBOR, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. ”Sejuta lampu obor berasal dari sebuah nyala lampu obor”, dan nyala lampu obor pertama tidak akan meredup. Lampu obor kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
Semoga sahabatku bisa menjadi OBOR KEBIJAKSAAN ITU untukku, karena aku saat ini sedang buta, tak tahu kemana mencari arah. Jangan lari dan pergi menyalahkanku dalam kebutaan bahkan mencelaku karena percuma saja kebutaan itu akan semakin membuatku gelap gulita.
PIJAKAN HIDUP YANG TERABAIKAN
Seorang lelaki tua hidupnya bergelimang duka mencoba untuk selalu tersenyum. Di balik kerumitan hidupnya dia selalu tanpak tegar dan bersikap bijak, layaknya seorang bapak, kakak atau sahabat sejati terhadap siapapun yang dijumpainya.
Tak jarang petuah, perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan saat melihat sesuatu yang membuatnya iba. Dia sangat jeli melihat masalah orang untuk lalu terlibat dan membantunya. Walau ia tak mampu menghadapi keterpurukan yang mendera dirinya. "Mari kita makan bersama...., tinggalah kamu bersamaku...., ini sedikit uang untuk kebutuhanmu...., gampang, biar saya yang selesaikan...., ini buku semoga bermanfaat dan memotivasimu.....", tanpa semua itu diminta.
Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang lain meminta, ia mempunyai mata pandang yang mampu menembus relung kebisuan sahabatnya. Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.
Saudaraku, mungkin sepanjang perjalanan hidup kita pernah ada orang- orang yang menjadikan dirinya batu pijakan sehingga kita bisa melangkah maju dan lebih jauh. Meski cuma batu kecil, namun keberadaannya mungkin telah menyelamatkan kita dari jurang kejatuhan yang melumpuhkan. Sayangnya, seringkali kita tak pernah menengok batu-batu pijakan itu dan melupakannya.
BAGIAN TUBUH YANG TERPENTING
Ibu selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku kecil, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, “Telinga, Bu.” Jawab ibuku, “Bukan. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti.”
Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya, “Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita.” Dia memandangku dan berkata, “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.”
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, “Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku.”
Akhirnya 20 tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?” Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar “hidup”.
Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting.”
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.”
Aku bertanya, “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?” Ibu membalas, “Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya.”
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan… Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan… Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.
MENOLONGLAH ATAS NAMA CINTA
“Abah, minta TOLONG ambilkan minum dik Elin di atas meja” sembari menjulurkan tangannya yang tak sampai, anakku yg masih 3 tahun merengek. Kupenuhi permintaannya, besuknya apa yang terjadi, sedikit-sedikit dia selalu minta tolong sama mamahnya, sama kakaknya dan mungkin siapapun yang dia temui.
Di lain waktu, kembali terjadi, “Abah minta tolong ambilkan minum dik Elin”, Saya terdiam, sambil berpura-pura sibuk, aku memotivasinya, “Adik belajar ambil sendiri, caranya ambil kursi dan naiklah pasti tangan adik bakal sampe ke minuman itu”. Dia berusaha mendorong kursi dan menggerakkannya menuju ke bibir meja, lalu dia naik dan mampu meraih minumannya sendiri. Sejak itu dia tahu caranya, dan selalu mandiri karena sering ditinggal mamanya kerja di luar rumah.
Kebiasaan menolong ternyata akan membuat orang yang ditolong memiliki ketergantungan. Apalagi kebiasaan itu tertanam sejak kecil, sungguh merupakan pendidikan yang buruk. Seorang teman yang sering kita tolong sering tak sadar, bahwa si penolong bisa jadi memiliki permasalahan yang justru seharusnya perlu ditolong, bahkan bisa jadi masalah dia jauh lebih berat ketimbang peminta tolong. Yang harus dicatat apakah kita mau jadi seorang yang baik hati, yang tak bisa mengatakan ‘tidak’ dalam arti yang positif.
Menolong orang yang sebenarnya masih dapat melakukan banyak hal sendiri, namun memiliki ketergantungan yang kuat merupakan problem serius. Disisi lain ketergantungan itu menjadi wajar apabila peminta tolong memang memiliki (maaf) keterbatasan fisik, psikologis, atau situasional permanen.
Adapun pertolongan yang lebih bersifat empati dan kebutuhan humanis tanpa mengurangi rasa dan prasarana diri, seperti tolong kasih sayangi dan cintailah diriku sepenuh hati, maka selalu katakan “YA” karena pertolongan seperti itu tak akan pernah mencemari hati, bisa menepis segala prasangka dan membuat jiwa kita semakin kaya.
Maka, demi CINTA saling tolong menolonglah.... dan aku akan belajar untuk tidak meminta pertolongan itu.
YANG KUTAHU TENTANG KEHILANGAN
Teringat saat berhenti di trafic light, persis di depanku bis kota yang sedang menaikkan penumpang seorang kakek tua. Ketika sedang naik, lampu keburu hijau dan kasihan si kakek sandalnya terpental lepas dan terjatuh sebelah.
Aku berusaha memungutnya, walau suara klakson di belakang mobil saling bersahutan mengisyaratkanku agar segera berjalan, dengan agak tergopoh akupun lalu berusaha mengejar bis kota yang sudah jauh meninggalkanku.
Akhirnya, mampu juga aku mengejar dan membuntutinya, tetapi tiba-tiba aku melihat ada tangan melambai sambil melempar sandal dari jendela yang ternyata dia sang kakek yang kehilangan sebelah sandalnya.
Dalam bathinku, sang kakek pasti mengira bahwa sandal sebelahnya tak mungkin lagi bisa bersanding dengan pasangannya atau mungkin dia mengikhlaskan kehilangan keduanya karena tak mungkin lagi bisa disatukan, dengan harapan bila ada yang menemukan sisi kiri sandal itu dia bisa menemukan sisi kanannya juga, sehingga sandal itu bisa dimanfaatkan, dan kebetulan itu adalah saya.
Dari kejadian itu, tanpaknya sang kakek telah memiliki filosofi dasar dalam hidup. Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup ini. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan menyedihkan, tapi tanpa kita sadari di balik itu terjadi sebuah tindakan dan prilaku positif dalam hidup ini.
Filosofi kehilangan itu tidak bisa diartikan hanya untuk sesuatu yang jelek saja. Kadang, kita juga mesti kehilangan sesuatu yang baik dan yang tengah kita senangi. Ini semua dapat diartikan : supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, bahwa pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu adalah wajar terjadi dan musti diikhlaskan.
Suatu saat kehilangan menjadi sebuah keharusan, seperti kita mesti rela kehilangan masa kekanak-kanakan dan remaja kita demi meraih sebuah kedewasaan. Kita mesti juga rela kehilangan rasa malas kita untuk sebuah kesuksesan. Terkadang pula Allah mengharuskan membuat keputusan, seperti yang dialami oleh sang kakek, yaitu segera berganti sandal. Satu sandal hilang, membuat pasangan sandal sebelah kehilangan makna. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan atau pemulung yang membutuhkannya.
Berkeras hati dan berusaha mempertahankan sesuatu yang tidak semestinya terkadang tidak membuat hidup ini menjadi lebih baik. Kita musti cermat memutuskan kapan sesuatu hal atau seseorang hadir di tengah hidup kita, atau kapan saatnya kita meninggalkannya dan lebih baik bersama yang lain.
Pada saatnya, kita harus menghimpun energi dan keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling berharga serta kita musti ikhlas, karena hidup ini patah tumbuh hilang berganti dan tiada pesta yang tak pernah usai. Semua yang ada didunia ini tak ada yang abadi, termasuk di dalamnya diriku, dirimu dan diri kita.
” Anehnya, aku tak kuasa melakukannya, akhirnya kuserahkan kembali sepasang sandal itu sembari berkata ”Kek, belum saatnya perpisahan itu terjadi”. Kakek itu nyengir ompong ha ha ha
WANITA DI BALIK MISTERI KEWANITAANNYA
Mereka terlahir untuk cemas dan selalu mencemaskan. Bangga apabila mendengar istilah emansipasi dan persamaan hak, sementara mereka tak mengerti artinya. Mereka begitu percaya diri dengan blus yang dikenakan dari Senin hingga Jumat. Atau mereka bisa berjalan tegak dengan menggantungkan tas kulit berisi silabus kecantikannya. Semakin sempurna menutup anggapan kaum pria jika mereka adalah makhluk yang lemah. Sesungguhnya mereka tidak lemah, tapi mereka tahu untuk menggunakan kekuatan.
Wanita yang aku tahu, selalu lebih banyak ketimbang jenis kelamin pria. Tapi wanita yang aku tahu pula, terlihat seolah lebih dominan ketimbang pria. Responsif dan cenderung tidak menggunakan akal sehat. Mereka menggunakan perasaaan, karena itu lah mereka terlihat lebih natural. Mereka jarang menggunakan logikanya, tapi mereka punya insting yang cukup tajam, bahkan lebih tajam ketimbang anjing pelacak polisi paling terlatih sekalipun. Insting yang begitu alami, sehingga sering membuat pria terlihat menjadi bodoh dan tolol. Kata-kata yang mempesona tanpa isi, tapi karena itu lah sering menjadikan pria makhluk yang seolah terlihat tidak berharga.
Kata-kata yang mengharukan, tangisan yang menyesakkan, dan rengekan yang mengibakan, bukanlah menandakan mereka lemah, tapi justru adalah senjata yang lebih mematikan ketimbang yang pernah ditudingkan oleh Bush. Lenggang tubuh yang lemah gemulai itu, bukanlah mereka itu tidak mampu melakukan seperti apa yang dibanggakan kaum pria, tapi justru sebaliknya karena itulah mereka menjadi dominan. Bukan senyuman atau kata-kata manja yang membuaikan, tapi itulah cara mereka untuk menyerang sifat sombong kaum pria. Secret weapon, lethal weapon, mass destructive weapon, mereka memilikinya karena mereka sangat alami.
Jika engkau tahu, mereka adalah makhluk yang paling rumit yang pernah diciptakan, jauh lebih rumit ketimbang struktur lintasan atom di California. Merekalah makhluk yang paling indah, bahkan lebih indah dari lukisan Madonna dan Monalisa. Mereka memiliki payudara, pinggul yang lebar, dan liang vagina, semuanya adalah sumber kehidupan paling agung, penentu pelestarian. Tanpa banyak disadari kaum pria, kaum wanita sesunggunya diberikan amanah untuk menjaga kelestarian hidup. Sayang sekali, tidak sedikit pria-pria terhormat yang merusak dan menyelewengkan amanah mereka.
Mereka memiliki dua tangan yang berbeda dengan standar tangan yang dimiliki kaum pria. Allah begitu sempurna menciptakan dua tangan wanita yang begitu rumit. Mampu menjaga dan mengasihi banyak anak pada waktu yang bersamaan. Pelukannya bisa menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan. Hanya dengan dua tangan wanita, kekuatan yang lebih dasyat ketimbang kekuatan untuk menggerakkan planet Bumi. Kekuatan yang indah karena terbungkus oleh kelembutan.
Jangan percaya jika engkau melihat pria mengeluarkan air mata, tapi jangan sekalipun engkau meremehkan ketika melihat wanita mengeluarkan air mata. Bagi mereka kaum wanita, air mata merupakan salah satu cara yang paling indah untuk mengungkapkan atau menekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.
Jangan pernah lupa, jika wanita memiliki kekkuatan yang tidak dimiliki oleh kaum pria, yaitu kekuatan untuk mengatasi beban yang sama sekali tidak bisa diatasi oleh kaum pria.
Mereka kaum wanita yang aku tahu sangatlah pandai menyimpan, atau tepatnya menyembunyikan isi hati dan perasaannya, dan terkadang bahkan pendapatnya sendiri. Masihkah engkau tidak melihat? Mereka masih mampu tersenyum sekalipun hatinya sedang menjerit, menyanyi sekalipun hatinya sedang menangis, dan bahkan tertawa ketika sedang ketakutan. Mampukah pria melakukannya? Mereka mampu melakukannya.
Mereka jauh lebih berani untuk berkorban untuk sesuatu/seseorang yang dicintainya, keberanian yang tidak pernah kita bayangkan. Sejarah telah mencatatnya berulang-ulang, fakta yang tak terbantahkan. Jikapun diperlukan, mereka mampu berdiri untuk melawan ketidakadilan, dan sejarah pun sudah mencatatnya berulangkali. Sekalipun mereka ini tidak menolak jika melihat yang lebih baik, namun mereka pun tidak ingin jika ada yang lebih baik dari diri mereka sendiri. Ego? Jangan tanya lagi seberapa besar keinginan mereka untuk menguasai dan memiliki sesuatu yang paling dicintainya. Sekali lagi, sejarah sudah mencatatnya dan selalu saja terulang.
Sejenak ingin saya tunjukkan dari suatu kitab kehidupan tentang catatan wanita, cobalah engkau simak berikut ini:
Dia menangis saat melihat kemenangan,
Dia girang dan bersorak saat melihat orang yang dia benci menderita,
Dia akan selalu bahagia apabila mendengar pujian,
Dia akan menjadi sedih apabila mendengar duka
Satu hal, mereka kaum wanita memiliki kekuatan untuk mengatasi hidup, dan sejarah pun akhirnya mengakui dan mencatatnya. Mereka sangat paham apabila sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Satu hal pula yang aku tahu tentang wanita, mereka seringkali lupa jika diri mereka begitu berharga. Mereka menutupnya dengan istilah feminis dan kehormatan, tapi mereka toh akhirnya tidak berdaya melawan perasaannya sendiri. Mereka seringkali mempertontonkan kelemahan sebagai kelemahan dan menjadikan diri mereka bodoh. Saya tidak perlu menunjukkan di mana mereka berada, karena mereka selalu ada di mana engkau akan menemukannya. Terkadang, aku selalu mengingat jika mereka begitu pandai untuk menutup perasaan mereka. Seringkali bahkan pria menjadi bodoh karenanya. Mereka bukanlah untuk dicari kaum pria, sebaliknya mereka yang mencari. Tidak ada aturan tapi begitulah hukum alam menuliskannya.
TUHAN ITU KREATIF SELALU PUNYA CARA MENGINGATKAN KITA
Saat masih nyantri di Gontor, saya punya sahabat yang sangat piawai melukis, karena dia kangen sama kekasihnya di kampung halaman dan hanya saat libur dia bisa meluapkan rindunya, dia ingin melukiskan sang kekasih itu di atas sebuah kanvas putih sembari mencari suasana yang sepi dan hening di atas sebuah gedung pondok berlantai 3 (dulu namanya Gedung Saudi 2)
Ketika menyelesaikan lukisannya yang berukuran 2×8 m, dia mulai mengagumi keelokan lukisan dan sang kekasih sambil memandanginya dia berjalan mundur. Tanpa dia sadari 1 m lagi adalah ujung dari gedung dimana dia berada yang tinggi dan satu langkah lagi dia akan terjatuh.
Aku melihat dan menyaksikan dengan mata kepalaku, saat hendak berteriak untuk memperingatkan dia, aku takut membuatnya terkejut dan malah bisa terjatuh. Aku alihkan perhatiannya dengan caraku mengambil kuas dan cat yang ada didepan lukisan lalu mencoret-coret lukisan itu sampai tidak berbentuk.
Kawanku sang pelukis sangatlah marah dan maju hendak memukulku, tetapi beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu menghalangi dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris terjatuh.
----------------------------------------
Terkadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat ideal dan indah bersama pasangan yang kita idamkan, tetapi tanpa kita sadari lukisan itu dirusak oleh Allah, karena DIA melihat bahaya yang ada di balik lukisan itu.
Terkadang kita marah dan jengkel terhadap Allah atau juga terhadap siapapun orang-orang di sekitar kita, tapi perlu kita ketahui, ada suatu kausalitas kehidupan yang tak pernah kita fikirkan sebelumnya, bahwa malapetaka yang terjadi pasti ada penyebab dan membuat semua itu terjadi.
JANGAN SEMBUNYI DI BALIK SELIMUT KERAGUAN
Nasehat yang selalu kuingat dari ibuku ; "Jika kamu tidak memiliki apa yg kamu sukai, maka sukailah apa yg kamu miliki saat ini". Namun permasalahannya, apa yang sedang aku sukai saat ini belum seutuhnya menjadi milikku. Ada yang masih ngangsur, ada yang masih berbentuk tagihan, ada pula yang masih dalam perburuan dan yang masih jinak-jinak merpati.
"Life is hunting" (Hidup adalah berburu) itu nasehat lain dari bapak saya, dan diam-am kutambahi nasehat itu "Hidup adalah berburu dan diburu". Artinya apakah kita akan menjadi subyek atau obyek, apakah kita mesti jadi hunter atau targeter, semua mesti kembali pada diri kita masing-masing.
-----------------------------------
Sebenarnya kita semua peberani lebih dari yang kita yakini, kuat dan mampu lebih dari yang kita tahu, dan memiliki jiwa yang menggelora lebih dari yang kita kira, namun itu semua tersembunyi dibalik diding tipis bernama keragu-raguan.....
Maka jangan kau ragukan lagi aku ..... hua ha ha ha ha
KUBIARKAN ANAKKU BEREKPRESI
Sepulang sekolah Playgroup, anakku Arina Suha Sajida yang masih usia 3 tahun memamerkan kebolehannya menyanyikan sebuah lagu yang lagi ngetrend "IWAK PEYEK.......". Dengan bangganya dia melantunkan lagu itu yang diperolehnya entah dari mana. Saya yakin lagu itu bukan yang diajarkan Ust (bu guru) yang sehari-hari mendampinginya.
Saya hanya bisa tersenyum lantaran rasa percaya dirinya, yang seolah sang bapak akan bangga dan senang setelah mendengar penampilan dan kebolehannya. Dia tidak merasa malu dan bersalah sedikitpun, bahwa itu lagu orang dewasa yang tidak pantas kalau dinyanyikan di depan kelas dan di hadapan para temannya.
Saya berfikir, bahwa sekolah yang saya pilih buat menimba ilmu anak-anak sudah pilihan terbaik, sementara kami orang tua juga berusaha semaksimal mungkin mendidik mereka di rumah. Tetapi, ternyata saya tidak pernah mengkhawatirkan apa yang terjadi, yaitu jarak antara sekolah dan rumah. Dan pengaruhnya sangat dahsyat terhadap pembentukan karakter anak di luar bangku sekolah, tergantung bagaimana kita mensikapinya.
--------------------------------
Ternyata, Pendidikan itu membebaskan. Tidak ada paksaan di dalamnya. Mulai dari sejak dini semuanya harus mengenal apa yang ada di dalam dunia pendidikan bisa bermanfaat dan tidak menjadikan seseorang menjadi ‘pecundang’ atau ‘keledai’. Dengan catatan ; Kita musti mengenali karakter, kemampuan, kekurangan dan kelebihan anak, sehingga pendidikan yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan dasar dan aktualisasi dirinya, menjadi yang terbaik sesuai tujuannya diciptakan kedunia..
Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan. Sungguh nikmat dari Tuhanmu tak akan pernah bisa engkau hitung. (Arrahman)
MASALAH ITU MESTI DISIKAPI PROPORSIONAL
Saat sedang asyik duduk di sebuah ruang tunggu rumah sakit Pantirapih tanpak orang-orang sedang duduk dengan tenang -- sebagian sedang membaca surat kabar, sebagian sedang melamun, sebagian lain beristirahat dengan mata terpejam. Suasananya tenang dan damai.
Lalu tiba-tiba, seorang pria dan anak-anaknya masuk dan membuat suasana berubah. Anak-anak tersebut begitu berisik dan ribut tak terkendali sehingga segera saja keseluruhan suasana menjadi panik dan rame.
Lantas Sang Ayah duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya, agaknya tidak peduli akan situasi saat itu. Anak-anaknya berteriak-teriak, melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang sedang dibaca orang. Sangat mengganggu. Namun, pria yang duduk di sebelah saya ini tidak berbuat apapun.
Sulit untuk tidak merasa jengkel. Saya tak mengerti ia dapat begitu tenang membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka, sama sekali tidak bertanggung jawab. Sangat terlihat bagaimana semua orang lain di dalam ruang tunggu juga merasa terganggu.
Akhirnya, dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa, saya menoleh ke arahnya dan berkata, "Maaf Bapak, anak-anak anda benar-benar mengganggu banyak orang. Dapatkah anda mengendalikan mereka sedikit?"
Orang itu mengangkat dagunya seolah baru tersadar akan situasi di sekitarnya lalu berkata dengan sedih, "Oh, anda benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari ruang otopsi dimana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya."
----------------------------------
Dapat anda bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Paradigma saya berubah. Tiba-tiba saya melihat segalanya secara berbeda, dan karena saya melihat dengan cara berbeda, saya berpikir dengan cara berbeda, saya merasa dengan cara berbeda, saya berperilaku dengan cara berbeda.
Kejengkelan saya seketika menghilang. Saya tidak perlu lagi khawatir untuk mengendalikan sikap atau perilaku saya; hati saya dipenuhi dengan kedukaan yang dirasakan pria itu. Perasaan simpati dan kasihan mengalir dengan deras. "Istri anda baru saja meninggal? Oh, saya turut berduka. Dapatkah anda menceritakannya kepada saya? Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu?" Segalanya berubah dalam seketika.
Nah sobat apa yang saya alami di atas adalah sebagian contoh kecil yang dapat menunjukkan kepada kita betapa hebatnya kekuatan paradigma. Itulah paradigma, cara pandang kita akan sangat mempengaruhi cara kita untuk bersikap. Sekarang giliran kita kawanku, saatnya kita merubah paradigma kita ke arah yang lebih baik. Masalah apapun yang kita alami dalam hidup, bukanlah masalah yang sebenarnya. Namun, masalah yang sebenarnya adalah cara kita memandang masalah itu sendiri.
AIR MATA DAN MUTIARA
Suatu hari anak kerang mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam menempel tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”
Si ibu terdiam, sejenak, “Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga.
Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
----------------------------------
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa’ yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara’.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja’.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kita. Cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan .....
“Airmataku diperhitungkan Tuhan..... dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara.”